“Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang harus dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi.”
(Goerge W. Bush-uk)
Dari pernyataan mantan presiden–orang idiot no. 1–Amerika Serakah diatas seharusnya kita sadar bahwa ketika ”yang berkuasa” menyebarkan demokrasi, tentu saja itu merupakan alat untuk memelihara perut mereka agar tetap gemuk, bodohnya mengapa kebanyakan kita yg ber-KTP Islam malah menyambut demokrasi ini dengan bangganya???
Bukti nyata kerusakan demokrasi dapat kita rasakan di negara ini, Justru lewat proses demokrasi, DPR mengeluarkan UU yang lebih berpihak kepada kelompok bisnis bermodal besar terutama penguasa asing. UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan, UU Penanaman Modal, semuanya berpihak pada asing dan baru-baru ini disahkannya UU BHP mengakibatkan mahalnya biaya pendidikan juga akibat dari proses demokrasi. Dan itu secara resmi dan legal disahkan oleh partai-partai politik di DPR. Sedangkan tuntutan oleh rakyat mengambil alih (nasionalisasi) perusahan tambang emas, minyak, batu baru dari swasta dan perusahan asing justru tidak pernah digubris oleh mereka yang katanya wakil rakyat. Jadi suatu kebohongan yang besar bila dikatakan mereka itu mewakili rakyat, dan kekeliruan yang besar pula bila menganggap demokrasi adalah sistem yang pro rakyat. Apalagi mengatakan demokrasi sejalan dengan Islam adalah anggapan yang amat sangat menggelikan. Misal saja pada masalah pengelolaan SDA, Demokrasi secara jelas memberikan kebebasan kepada siapapun (baik negara maupun swasta) untuk mengelola SDA, sedangkan Islam dengan jelas menyatakan bahwa manusia berserikat dalam 3 hal yakni air, api (sumber energi), dan padang rumput gembalaan (hutan) dan tidak memerlukan pelegalisasian UU untuk mengelola ketiganya, karena telah jelas bahwa yang mengelola adalah negara dan hasilnya diberikan kepada rakyat tanpa mengambil keuntungan sepeserpun karena ketiganya adalah hak mutlak rakyat.
Revolusi Sistem
Sekarang telah jelas bahwa persoalan bangsa ini berawal dari diterapkanya sistem demokrasi yang rusak. Ibarat Mobil, demokrasi adalah mobil rongsokan yang mesinnya sudah degal (desain gagal). Sehingga dari sistem rusak ini, lahirlah para pemimpin yang lebih rusak pula. Sangat mustahil kita mengharapkan pemimpin yang baik jika sistemnya rusak. Mustahil negara ini bangkit dengan pergantian pemimpin saja walaupun seribukali lagi kita mengadakan pemilu. Kalau itu yang terus dilakukan artinya tidak lebih dari sebuah upaya yang mempercantik rongsokan ‘mobil’ yang tua dan berkarat. Yang tentunya akan memakan biaya, waktu dan tenaga yang banyak tetapi hasilnya tetap saja nol besar.
Perubahan yang harus kita lakukan adalah perubahan mendasar dan menyeluruh yaitu mengganti sistem demokrasi yang rusak tersebut dengan sistem yang memuliakan manusia yang berasal dari Sang Pencipta manusia yakni ISLAM. Jika kita masih saja menyerukan yang hanya sebatas “mari sukseskan pemilu ini, pilkada ini, pilih pemimpin yang baik, tegakkan supremasi hukum, berantas KKN, tegakan keadilan, turunkan harga kebutuhan pokok, tolak BHP, dsb. Tanpa membongkar kepalsuan demokrasi, sama saja dengan ”polisi yang sibuk menangkap pemakai narkoba tanpa berusaha membongkar pabrik pembuatnya” dan tentunya pekerjaan itu tidak akan kunjung selesai bahkan semakin lama semakin parah. Buanglah itu semua, karena ide-ide itu masih umum, sudah basi dan tidak menyentuh akar permasalahan yang ada.
Para intelektual dan politisi negara ini umumnya telah silau dengan kemajuan barat terutama bagi mereka yag telah mengenyam pendidikan disana, sehingga mereka selalu mengagung-agungkan negara penjajah tersebut. Sebenarnya mereka lupa bahwa ”wajah” sebenarnya negara barat itu bukanlah pada kemajuan di negaranya, artinya jika ingin melihat wajah negara barat yang sebenarnya maka lihatlah di Iraq, Afganistan, Afrika bahkan di Indonesia ini maka akan disaksikan berbagai kerusakan, kemiskinan, kelaparan dll yang merupakan akibat kemajuan mereka.
Akan tetapi sekali lagi karena mayarakat, para intelektual dan politisi negara ini telah teracuni pemikirannya, maka wajar saja dalam melihat demokrasi masih dengan kaca mata kuda sehingga muncullah pernyataan “demokrasi tidak salah, yang salah itu penerapannya” atau “kita baru belajar berdemokrasi, mudah-mudahan pemilu besok ada perubahan” dll. Begitulah kira-kira pernyataan defensif dan rendah diri yang menjijikkan yang sering dikemukakan oleh penghamba demokrasi, jika ada yang mengungkap kebrobrokan demokrasi tersebut. Pernyataan defensif ini merupakan bentuk sikap pembelaan terhadap kedaaan yang sebenarnya sudah nyata-nyata bobrok sekaligus menggambarkan pola fikir yang masih rendah sehingga tidak bisa melihat dengan jernih.
Kesalahan fundamental dari demokrasi adalah dalam “ide” meletakkan kedaulatan ditangan rakyat yang faktanya adalah meletakan kedaulatan rakyat ditangan segelintir orang (parlemen).
Idealnya menurut demokrasi rakyatlah yang berhak membuat hukum, peraturan / undang-undang. Oleh Karena tidak mungkin seluruh rakyat bermusyawarah untuk membuat UU maka dipilihlah para wakil rakyat yang katanya sebagai representasi suara rakyat. Dari kenyataan proses demokrasi ini minimal ada 2 kesalahan fundamental :
Pertama, anggapan bahwa wakil rakyat yang terpilih dalam mekanisme demokrasi akan memperjuangkan nasib rakyat adalah mustahil terwujud (seperti yang telah dijelaskan diatas).
Kesalahan kedua, dengan memberikan hak membuat UU kepada wakil rakyat adalah mustahil diharapkan UU tersebut akan baik untuk mengatur negara ini sebab UU yang dihasilkan telah dipengaruhi berbagai kepentingan, kemudian akal menusia juga terbatas dalam menentukan apa yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri apalagi untuk mengatur sebuah negara yang besar ini. Orang awampun sadar bahwa ketika suatu peraturan/UU diserahkan pada sekelompok orang tertentu (DPR) adalah hal yang wajar peraturan yang dibuat akan memihak kepentingan mereka dan konco2 nya.
Metode Perubahan Ekstraparlemen
“Kita harus realistis” itu lah pernyataan yang sering dikemukakan umumnya para aktivis gerakan perubahan. Artinya mereka masih menganggap untuk mengubah keadaan negara ini kita mesti ikut dalam pemerintahan, setelah kita menangkan pemilu dan kuasai pemerintahan maka kita terapkan kebijakan yang pro rakyat. Itulah yang mereka maksud perjuangan yang realistis. Sedangkan mereka menganggap perjuangan ekstra sistem adalah tidak realistis.
Perlu kita cermati bahwa pandangan yang menyatakan untuk mengubah negara ini mestinya kita masuk sistem memang seakan-akan realistis, pandangan inilah yang yang selama ini digembar-gemborkan sehingga telah menancap kuat dibenak para aktivis perubahan. Tapi faktanya tetap saja tidak ada perubahan bahkan kondisi negara ini makin terpuruk. Betapa banyak para aktivis yang dulunya idealis tapi toh setelah menjabat idealisme mereka luntur oleh kucuran harta, tahta, dan wanita.
Oleh karena itu, kita harus mengubah paradigma berfikir dan keluar dari semua pandangan-pandangan palsu selama ini. Perubahan yang revolusioner / sistemik itu hanya akan tejadi oleh gerakan yang aktif diluar sistem yang berlaku, dalam sejarah kita ketahui betapa banyak runtuhnya sebuah sistem dan rezim justru dilakukan oleh gerakan ekstra. Revolusi Islam yang menyadarkan manusia dari penghambaan sesama manusia menjadi penghambaan kepada Sang Pencipta manusia, Allah SWT. Revolusi bolshevik yang menumbangkan kekuasaan Tsar Rusia oleh gerakan komunis, revolusi prancis yang menumbangkan kediktatoran gereja melahirkan kapitalisme. Begitu pula dalam perubahan rezim yaitu runtuhnya Orde Baru yang korup oleh gerakan reformasi. Pertanyaanya, apakah dilakukan oleh mereka yang berada di parlemen atau ekstra parlemen? Tentu jawabannya adalah oleh gerakan ekstraparlemen.
Dari fakta perubahan sistem politik tersebut dapat kita simpulkan bahwa terjadinya perubahan sistemik berawal dari sikap ketidakpercayaaan masyarakat terhadap penguasa dan sistem yang berlaku. Sebab berlangsungnya suatu pemerintahan adalah akibat adanya kepercayaan/interaksi positif antara masyarakat dengan pemimpin dan sistem tersebut. Maka, aktivitas penting yang harus dilakukan adalah memutus kepercayaan tersebut dengan cara mengungkapkan segala fakta riil tentang kebobrokan dan kepalsuan pemimpin dan sistem yang berlaku kepada masyarakat dan disaat yang bersamaan kita harus menawarkan sistem alternatif.
Sebagai seorang muslim maka jelas sistem yang ditawarkan untuk menggeser sistem yang rusak saat ini adalah sistem yang berasal dari Rabbnya, yakni SISTEM ISLAM dengan menerapkan syariahNya secara total dan dengan mendirikan institusi yang menjamin penerapannya, yakni Khilafah yang telah terbukti selama 14 abad mampu memimpin 1/3 dunia.
J I K Profile
- jikindra
- manusia yang telah teramat sangat muak dengan tatanan dunia jahanam dengan ideologinya yang memuakkan mata, hati, dan otak!
J I K Partner
- begundal militia
- berandalan tuhan
- burjo
- commanders society
- coretan lukman
- dakwah kampus
- divan semesta
- felix siauw
- fikir community
- gaul islam
- gema pembebasan
- gema pembebasan kaltim
- hambos kaltim
- jembatan harokah
- khilafah 1924
- khilafah center
- khilafah fighters
- komunitas nuun
- liberation youth kaltim
- menara syndicate
- micro jihad
- new fighter
- next revolt
- o solihin
- phytemh
- revolt never die
- revolters community
- revolusi butuh uang
- revolusi damai
- sonicfist
- suara langit
- syabab area
J I K Music
anu-ku Rusak Karena Demokrasi
Kamis, 15 Juli 2010Diposkan oleh jikindra di Kamis, Juli 15, 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar